News

DKI Koordinasi dengan Daerah Pemasok Hewan Kurban, Pastikan Kesehatan

Jakarta (KABARIN) - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta berkoordinasi dengan sejumlah daerah pemasok hewan kurban untuk memastikan hewan-hewan yang masuk ke ibu kota dalam kondisi sehat dan bebas penyakit.

"Untuk memastikan hewan kurban yang nanti akan dikirim ke Jakarta dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit yang berpotensi mematikan, baik hewan maupun yang berpotensi menularkan kepada manusia," kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas KPKP DKI Jakarta Mujiati dalam acara daring di Jakarta, Selasa.

Dia menyebutkan sejumlah daerah yang menjadi pemasok hewan kurban di Jakarta, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Lampung.

"Total tempat penampungan hewan kurban 1.327 dan jumlahnya, jumlah hewan mencapai 80.959, asalnya dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Bali, NTB, dan Lampung," ujar Mujiati.

Merujuk prosedur pemasukan hewan kurban, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17 Tahun 2023 dan memperhatikan status situasi penyakit hewan, Dinas KPKP DKI mensyaratkan sejumlah dokumen hewan kurban, yakni sertifikat veteriner-ternak dari provinsi/kabupaten dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dalam kabupaten yang sama, khusus untuk peredaran hewan di dalam kabupaten.

Mujiati mengatakan Dinas KPKP DKI juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan dan daging kurban di tempat pemotongan hewan kurban (TPHK) untuk memastikan hewan bebas penyakit, salah satunya antraks.

"Penyakit antraks ini sangat mematikan dan bisa menular secara cepat kepada manusia. Jangan sampai, jika ada hewan yang terkena antraks, berpengaruh kepada masyarakat, khususnya panitia yang bersentuhan langsung dengan hewan kurban," tutur Mujiati.

Pada 2025, Dinas KPKP DKI mengambil sampel dari 106 lokasi TPHK dengan total sampel sebanyak 547, dan hasilnya semua negatif antraks.

"Kemudian, tanah juga kami ambil sampel karena virus antraks ini berada atau hidup di dalam tanah. Dari 93 sampel, semuanya hasilnya adalah negatif," ungkap Mujiato.

Dia pun mengimbau seluruh panitia pemotongan hewan kurban untuk memastikan sanitasi yang higienis, baik di lingkungan kerja maupun petugas yang melakukan kegiatan pemotongan serta penanganan daging kurban.


Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: